24 April 2009

Terasa lalu Sedar, Haha! Siapa la aku..

"Baiklah Ustadz. Saya ingin minta bantuan Ustadz untuk
melamar seseorang untuk saya." Kata Azzam dengan suara
bergetar.

"Oh itu. Begitu saja kok malu. Kamu memang sudah saatnya
kok Rul." Ustadz Mujab biasa memanggilnya ‘Rul’ kependekan
dari ‘Khairul’ yang diambil dari namanya ‘Khairul
Azzam’. Jadi di Cairo ada yang memanggilnya ‘Mas Khairul’,
‘Mas Insinyur’, ‘Rul’, ‘Irul’ dan ada yang memanggil dengan
nama belakangnya yaitu ‘Azzam’. Yang memanggil dengan
panggilan Azzam hanya orang orang satu rumahnya saja. Itu
pun atas permintaannya. Sedangkan di luar rumah banyak
yang memanggil ‘Khairul’ dan ‘Insinyur’.

"Aku akan membantu sebisanya. Siapa nama gadis yang
kaupilih itu. Dan siapa nama orang tuanya. Orang mana?
Kalau di Al Azhar, tingkat berapa?" Ustadz Mujab melanjutkan.

Dengan mengumpulkan semua keberaniannya ia menjawab
dengan suara bergetar. Dan dengan hati bergetar pula,

"Namanya Anna Althafunnisa Putri Pak Kiai Luffi Hakim.
Asal Klaten. Kalau tidak salah sekarang sedang program
pascasarjana di Kuliyyatul Banat, Al Azhar."

Ustadz Mujab kaget mendengar kata-kata yang keluar
dari mulut Azzam. Ia seperti mendengar suara petir yang nyaris
merobohkan apartemen di mana dia dan keluarganya tinggal.

"Anna Althafunnisa?" Tanya Ustadz Mujab tidak percaya.

Azam mengangguk dengan tetap menundukkan kcpala.

Ustadz Mujab menghela nafas panjang. Ia seperti hendak
mengeluarkan sesuatu yang menyesak di dadanya.

"Siapa yang mengabarkan kamu tentang Anna Althafunnisa?"

"Ada. Tapi dia tidak mau disebut-sebut namanya Ustadz,"

Ustadz Mujab kembali menghela nafas panjang.

"Allahlah yang mengatur perjalanan hidup ini. Sungguh
aku ingin membantumu Rul. Tapi agaknya takdir tidak menghendaki
aku bisa membantumu kali ini. Anna Althafunnisa itu
masih terhitung sepupu denganku. Aku tahu persis keadaan
dia saat ini. Sayang kau datang tidak tepat pada waktuya.
Anna Althafunnisa sudah dilamar orang. Ia sudah dilamar oleh
temanmu sendiri.

"Sudah dilamar temanku sendiri? Siapa?"

"Furqan! Ia sudah dilamar Furqan satu bulan yang lalu."

Mendengar hal itu tulang-tulang Azzam bagai dilolosi
satu per satu. Lidah dan bibirnya terasa kelu. Furqan lagi. Ia
berusaha keras mengendalikan hati dan perasaannya untuk
bersabar.

"Maafkan aku Rul. Aku sarankan kau mencari yang lain
saja. Mahasiswi Indonesia di Al Azhar kan banyak. Dunia
tidak selebar daun kelor." Ustadz Mujab berusaha menenteramkan.

"Iya Ustadz. Tapi saya akan mencari yang sekualitas
Anna Althafunnisa."

Ustadz Mujab terhenyak mendengar jawaban Khairul
Azzam. Begitu mantapnya ia memasang standar. Ia seolah lah
sudah tahu persis Anna Althafunnisa.

"Apa kamu sudah pernah ketemu Anna?"

"Belum."

'Sudah pernah tahu wajahnya?"

"Belum."
"Aneh. Bagaimana mungkin kau begitu mantap memilih
Anna Althafunnisa? Bagaimana mungkin kau menjadikan
Anna sebagai standar."

"Firasat yang membuat saya mantap Ustadz."

"Tapi menikah tidak cukup memakai firasat Rul. Jujur
Rul aku sangat kaget dengan standarmu ini. Baiklah aku buka
sedikit. Anna adalah bintangnya Pesantren Daaru Quran.
Sejak kecil ia menghiasi dirinya dengan prestasi, dan prestasi
selain dengan akhlak mulia tentunya. Ia menyelesaikan S.1 -
nya di Alexandria dengan predikat mumtaz. 
Kalau ingin memiliki isteri seperti dia. Cobalah kau menstandarkan dirimu dulu
seperti dia. Kalau aku jadi orang tuanya, dan ada dua mahasiswa
Al Azhar yang satu serius belajarnya yang satu hanya
sibuk membuat tempe. Maaf Rul, pasti aku akan memilih yang
lebih serius belajamya. Kau tentu sudah paham maksudku.
Bukan aku ingin menyinggungmu, tapi aku ingin kau mem -
perbaiki dirimu. Aku ingin kau lebih realistis. Cobalah kauraba
apa opini di Cairo tentang dirimu."

"Iya Ustadz. Terima kasih. Ini akan jadi nasihat yang sangat
berharga bagi saya." Jawab Azzam dengan mata berlinang.
Kalimat Ustadz Saiful Mujab sangat berat ia terima. Ia
sangat tersindir. Tapi ia tidak bisa berbuat apa apa. Dengan
bahasa lain, sebenamya Ustadz Mujab seolah ingin menga -
takan bahwa dia sama sekali "tidak berhak" melamar Anna.
Atau lebih tepatnya sama sekali "tidak layak" melamar Anna.
Hanya mereka yang berprestasi yang berhak dan layak
melamarnya.

Dan lagi-lagi, prestasi yang dilihat adalah prestasi akademis.
Dan di mata orang orang yang mengenalnya di dunia
akademis, ia sangat dipandang remeh karena tidak juga lulus
dari Al Azhar. Padahal sudah delapan tahun lebih ia menjalaninya.

Azzam lalu minta diri. Dalam perjalanan ke rumahnya ia
meneteskan air mata. Ia berusaha tegar dan sabar. Namun
setegar-tegarnya ia adalah manusia biasa yang memiliki air
mata. Ia bukan robot yang tidak memiliki perasaan apa-apa. Ia
mengusap air matanya. Ia tidak bisa menyalahkan siapa saja
jika ada yang meremehkannya. Karena memang kenyataannya
ia belum juga lulus. Ia berusaha meneguhkan hatinya bahwa
hidup ini terus bergulir dan berproses.

p/s: aku x nak jadi macam ni.. haha, so, ya, aku sudah jelas barangkali.. hm..
-ketika cinta bertasbih-
Habiburrahman El Shirazy

6 comments:

NuR kHaiRunNiSa said...

wuhuuu..mane ko bace cte nih?dah ade kt tenet ke..waa..aku suke name khairul..aku agak mesti khairul dgn nisa tuh..hahaha..=P

amirulhazwan said...

ha'ah ada, kat scribd. Kalau nak aku leh send kan.

khairul nisa?
ngahaha..

[amiza a.malik] said...

'rul' panggilan manja..
boleh juga untuk panggil amirul
lagi best dr ami!

rul, rul, rul!
nak bini al azhar habaq jek la.
meh aku usahakan..
dh dkt sgt ni..
hahaha

amirulhazwan said...

aku tak layak barangkali.
dah tak nak letakkan standard

Aarghh.. aku nak ke Mesir!! haha
guau guau

syue_heart said...

ade ape dgn nisa n khairul?
asal org name nisa je mesti suke kat khairul.
hmm.. musykil saya..

oh ye.
ni same author ayat2 cinta ke?

amirulhazwan said...

musykil?
cuba tnya khai.

yyep. penulis yang sama